Mengenal Alat Bantu Perkuliahan; Buku Teks dan Modul

  • Whatsapp
alat bantu perkuliahan

Alat Bantu Perkuliahan. Agar pemahaman mahasiswa lebih mudah dalam menerapkan proses belajar mengajar maka harus dilakukan dengan baik. Salah satu upaya dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan menyediakan alat bantu perkuliahan yang dapat digunakan sebagai pegangan. Alat bantu perkuliahan yang sering digunakan mahasiswa adalah buku teks dan modul. Mari kita ulas kedua alat bantu perkuliahan ini secara lebih rinci. 

Apa Saja Alat Bantu Perkuliahan?

1. Buku Teks

Buku teks merupakan salah satu sumber belajar dan bahan ajar yang banyak digunakan sebagai alat bantu perkuliahan.  Buku teks memang merupakan bahan ajar sekaligus sumber belajar bagi mahasiswa yang konvensional. Sumber dan pembuat buku teks pelajaran dapat berasal dari berbagai macam. Esensi buku teks pelajaran adalah memberikan informasi dan materi kepada peserta didik melalui bahan yang berbentuk cetakan. Buku pelajaran memuat materi pelajaran ditambah dengan informasi yang relevan secara menyeluruh dan lengkap sehingga penggunaan buku teks pelajaran dapat digunakan berdampingan maupun tanpa sumber belajar atau media pembelajaran lainnya. Karakteristik dari buku teks, diantaranya:

  • Mengikuti kurikulum pendidikan nasional yang sedang berlangsung
  • Beorientasi pada keterampilan proses dengan menggunakan pendekatan kontekstual, teknologi, dan masyarakat, serta demokrasi dan eksperimen
  • Memberi gambaran secara jelas tentang keterpaduan atau keterkaitan dengan disiplin ilmu lainnya

2. Modul

Selai buku teks, alat bantu perkuliahan lainnya adalah modul. Hampir sama dengan buku teks sebenarnya, tapi isi modul lebih spesifik pada mata kuliah tertentu. Modul disebut juga media untuk belajar mandiri karena didalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri.

Artinya, mahasiswa dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran pengajar secara langsung. Bahasa, pola, dan sifat kelengkapan lainnya yang terdapat dalam modul ini diatur sehingga seolah-olah merupakan “bahasa pengajar” atau bahasa guru yang sedang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya.

Maka dari itulah, alat bantu perkuliahan ini sering disebut bahan instruksional mandiri. Pengajar tidak secara langsung memberi pelajaran atau mengajarkan sesuatu kepada para siswa dengan tatap muka, tetapi cukup dengan modul-modul ini.

Sebagai dosen yang membuat modul pembelajaran, hendaknya Anda harus memperhatikan lima poin ini. 

1. lf Instructional

Maksudnya yaitu melalui modul tersebut seseorang atau siswa mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain.

2. Self Contained

Maksudnya yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan siswa mempelajari materi pembelajaran dengan tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.

Baca Juga: Jenis-jenis bahan ajar

3. Stand Alone (berdiri sendiri)

Maksudnya yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Dengan menggunakan modul, siswa tidak tergantung dan harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika masih menggunakan dan bergantung pada media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.

4. Adaptive

Maksudnya yaitu modul alat bantu perkuliahan hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel untuk pembelajaran. Dengan memperhatikan percepatan perkembangan ilmu dan teknologi, pengembangan modul multimedia hendaknya tetap “up to date”. Modul yang adaptif adalah jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.

5. User Friendly

Maksudnya yaitu modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, dan istilah yang umum dalam kehidupan merupakan salah satu bentuk user friendly.

Baca Juga: Dalam Menulis, Jangan Banyak Bertanya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *